[REVIEW] Gochisousan (Week 13)


Week 13 : Fuku has come

Keluarga Meiko berencana untuk datang ke Osaka pada akhir tahun untuk merayakan tahun baru bersama. Namun terjadi sedikit perdebatan untuk memberitahu bkeluarga Meiko tentang status Shouzou yang telah disebut oleh Yuutaro dan Meiko telah meninggal pada surat-surat yang mereka telah kirim.


Yuutaro sendiri mendapatkan projek pembangunan untuk sebuah sekolah dasar. Projek pembangunan ini akan menggunakan konstruksi beton yang selama ini Yuutaro pelajari dan inginkan. Namun setelah melihat efek gempa di Tokyo, Yuutaro menganggap jika konstruksi beton masih memiliki beberapa kekurangan. Bagaimanapun, sekolah dasar adalah tempat bagi para anak-anak sehingga dibutuhkan rencana pembangunan yang seksama.

Menjelang tahun baru, Meiko juga kembali menemukan kesibukannya kembali. Kesibukannya kali ini adalah menyiapkan menu masakan tahun baru. Di Osaka sendiri, makanan tahun baru disimbolkan dengan setiap harapan berbeda di setiap makanan.

Setelah pada awalnya mampu menutupi tentang rahasia dari Shouzou, Meiko membuat blunder dengan mengatakan bahwa ayah Yuutaro masih hidup. Daigo kemudian sangat marah dengan fakta sepenting ini yang tidak pernah dikatakan dengan jujur. Oshizu kemudian menjelaskan mengenai keadaan Shozuou dan meminta Daigo agar tidak menyalahkan Yuutaro dan Meiko.


Setelah mampu mendinginkan kepalanya sedikit, Daigo datang menyapa Shouzou sebagai seorang ayah dari anak masing-masing karena hal tersebut dirasa sangat penting. Pertemuan keduanya cukup menyenangkan dengan keduanya mengatakan pendapat masing-masing, terutama Daigo yang mengatakan bahwa Yuutaro sedang bingung dalam pembangunan sekolah dasar. Setelah itu, malah Yuutaro dan Daigo pergi ke bar dan mabuk bersama layaknya ayah dan anak.


Hari terakhir di bulan Desember dan sedang dalam persiapan menuju tahun baru, Meiko mengantarkan makanan tahun baru ke beberapa kerabat dan juga para pria menyiapkan mocchi. Kemudian, perut Meiko bereaksi dan akan melahirkan di malam tahun baru.!

Selagi dalam proses persalinan, Meiko memberikan surat yang dituliskan oleh Shouzou kepada Yuutaro untuk dibaca olehnya. Dalam suratnya, Shouzou menjelaskan tentang pekerjaan masa lalunya, kesalahan dan alasan-alasan kenapa ia harus berhenti dan meninggalkan keluarga. Shouzou juga meminta maaf dan memberikan sedikit nasehat keada Yuutaro.

Yuutaro yang amarah kepada ayahnya telah sedikit melunak, datang menghampiri ayahnya dan melarangnya untuk kembali pergi meninggalkan keluarga. Yuutaro meminta ayahnya untuk tinggal dna melihat wajah cucunya yang akan segera lahir ke dunia.

Meiko kemudian sukses dalam proses proses persalinan dan lahirlah seorang bayi perempuan yang sehat dan lucu. Sosok bayi ini menjadi simbol kebahagiaan terbaru dalam keluarga Nishikado khususnya Yuutaro dan Meiko.


Setelah berdiskusi, akhirnya nama 'Fuku' diberikan kepada anak pertama Meiko. Fuku memiliki arti "nasib yang baik" dengan harapan keharmonisan akan selalu terjadi dalam hidupnya dan keluarganya. Catatan: Pernikahan di Jepang tidak membutuhkan pesta/resepsi resmi di awal, hal yang paling penting pertama dilakukan adalah mendaftarkan nama masing-masing ke badan resmi.