Week 14 : The power of love
Setting waktu pada minggu ini langsung maju sebanyak sepuluh tahun dimana era sudah berganti nama menjadi era Showa. Tepatnya pada tahun ke-tujuh Showa (1932), Meiko sudah diberkahi oleh tiga anak. Anak pertamanya sudah jelas adalah perempuan bernama Fuku, sementara dua adiknya adalah dua anak laki-laki bernama Taisuke dan Katsuo.
Sejak gempa besar Kanto, Osaka terus berbenah dalam hal pembangunan. Pembangunan kota benar-benar dilakukan secara besar-besaran hingga masa tersebut disebut masa emas dari 'Big Osaka'. Rencana pembangunan tersebut sudah sampai pada rencana pembuatan subway dan telah dibangun sebuah gedung siaran dimana Noriko bekerja disana sebagai seorang penyiar.
Anak sulung Meiko, Fuku, ternyata sedikit berbeda dengan anak-anak lainnya. Fuku cenderung pendiam dan tidak memiliki teman. Suatu hari Fuku harus diskors untuk sementara waktu akibat melempar batu dari atas hingga melukai kaki temannya dan menyalakan api di lingkungan sekolah.
Meiko malah sempat bertengkar akibat Fuku dengan menyalahkan Yuutaro yang terlalu sibuk dalam pekerjaan. Kemudian terungkap bahwa Fuku sangat menyukai hal-hal yang berbau fisika, Itulah alasan ia melempar batu dari atas dan menyalakan api untuk membakar benda yang berbeda. Melalui kakeknya (Shouzou), Fuku belajar mengenai hal-hal tersebut. Shozozu menjelaskan dengan singkat bahwa hal yang Fuku cari adalah 'gaya' yang tidak terlihat.
Suasana di rumah Nishikado juga telah berubah, Shouzou telah kembali ke rumah. Bersama Oshizu, ia turut menjaga ketiga cucunya dan juga menjadi penengah jika terjadi perselisihan, baik yang dibuat oleh cucunya maupun Yuutaro dan Meiko.
Yuutaro akhirnya mendapatkan projek pembangunan subway yang disupervisi oleh profesornya di Tokyo, Takemoto. Terdapat beberapa masalah dalam pembangunan tersebut, yakni air yang bocor dari tanah yang menyebabkan Yuutaro harus berdebat dengan para pekerja dan kontraktor. Menurut Yuutaro, proyek ini harus sempurna terkait masalah-masalah yang ada demi orang-orang banyak terutama orang yang tempatnya digusur karena proyek ini.
Noriko yang bekerja sebagai penyiar ternyata mempunyai penggemar misterius atau bisa dibilang penguntit (stalker). Noriko memang telah tumbuh menjadi wanitat karir yang cantik dan telah memasuki umur yang cukup untuk menikah (dibandingkan dengan Meiko yang menikah tepat setelah lulus).
Meiko kembali bermasalah dengan Fuku yang selalu diam, namun Fuku malah bereaksi ketika memakan es krim di pinggir jalan. Meiko dengan sedikit kesal berpikir apakah es krim di jalan lebih enak daripada es krim yang telah ia buat.
Diketahui kemudian bahwa alasan Fuku yang selalu diam saat ditanya tentang kelezatan makanan yang dimasak Meiko adalah karena makanan yang ia makan sejak lahir hanyalah masakan Meiko yang lezat. Fuku tidak pernah memakan makanan lainnya, atau dengan kata lain. Fuku hanya makan makanan ibunya yang lezat tersebut.
Yuutaro mengalami kecelakaan kecil di tempat proyek. Hal ini kemudian mempertemukan Yuutaro dengan sahabat masa kecilnya, Akiko, yang kini telah menjadi dokter. Lama tidak bertemu, Percikan perasaan muncul diantara keduanya.
Catatan :
Pembangunan Subway di Jepang telah berlangsung dari tahun 1930-an, sementara Indonesia masih sibuk dengan koonstruksi MRT di Jakarta. Memang jelas tertinggal.
Kredit terjemahan judul : Sato-san



