[REVIEW] Gochisousan (Week 19)


Week 19 : Poverty Dulls The Wit

Pembangunan satu stasiun subway terpaksa ditunda akibat material yang tidak tersedia. Bahkan profesor Takemoto harus menarik diri karena hal tersebut yang telah menghancurkan mimpi dan idealismenya. Yuutaro yang sangat mengagumi profesor Takemoto tidak bisa berbuat apa-apa dalam menghadapi hal ini.


Dampak dari perang semakin menjadi-jadi. Hampir semua bahan makanan harus didistribusikan dari pemerintah dan tidak dijual bebas. Masa dimana Meiko harus memasak hanya dengan bahan-bahan yang sederhana untuk keluarganya. Meiko bahkan sampai berbuat melampaui batas dengan membeli bahan makanan melalui pasar gelap yang dianggap ilegal dan melanggar hukum. Semuanya, demi keinginannya untuk memberikan yang terbaik kepada keluarganya.

Perbuatan Meiko akhirnya terungkap oleh para petugas dimana ia harus rela salah satu bahan makananya disita dan ditukar dengan uang yang jumlahnya tidak memenuhi. Harga bahan makanan di pasar gelap menjadi melonjak dengan harga jual 2-6 kali lipat dari harga normal. Tidak hanya Meiko, banyak keluarga yang melakukan tindakan ini.



Tidak ingin bahan makanan yang lainnya disita, Meiko meminta Yuutaro untuk membuatkan ruang bawah tanah (basement) untuknya. Satu hal yang tidak Meiko ketahui, rumah Nishikado ternyata telah memiliki basement sejak lama untuk perlindungan. Meiko pun menggunakan ruang tersebut untuk menyimpan bahan makanan yang ia cintai.

Suasanya perang saat itu membuat para kehidupan penduduk benar-benar tertekan, satu-satunya hiburan adalah stasiun radio dimana para pemirsa dapat mendengar cerita-cerita dan lagu-lagu yang diputar. Noriko yang bertanggung jawab dengan hal tersebut sedikit merasa tertekan ketika cerita-cerita patriot yang diceritakan malah membuat para anak-anak yang mendengar menjadi bersemangat untuk menjadi prajurit. Sedikit banyak, Noriko sepertinya tidak menyukai kondisi perang.

Status Gochisouan yang disandang oleh Meiko membuatnya menjadi terkenal. Beberapa orang di asosiasi wanita bahkan selalu mengangakat status tersebut kedalam situasi dimana Meiko harus sedikit berkorban dalam hal bahan makanan. Meiko kemudian malah sempat bertengkar dengan ketua asosiasi yang tidak sengaja menyiramnya dengan air saat sedang latihan simulasi penyerangan udara.

Selalu ada tantangan dalam kehidupan Meiko khususnya dalam memasak. Seorang pria datang ke Umasuke memesan yakigoori yang dulu sangat populer. Namun karena tidak adanya bahan dan es, hal tersebut hampir sulit diwujudkan. Umasuke berjanji untuk menyajikan yakigoori kepada pria tersebut yang ternyata tidak sempat membawa istrinya semasa hidup ke Umasuke. Melalui bantuan Fuku dalam membuat es, yakigoori berhasil dibuat. Pria tersebut ternyata seorang buronan polisi dan sangat senang bisa merasakan yakigoori, melihat kerja keras Umasuke, Meiko kembali terinspirasi.



Karena keadaan waktu perang yang membuat masayarakat sengsara. Banyak hal-hal yang biasa dilakukan menjadi dibatasi hingga mengikis semangat hidup, Umasuke dan lainnya termasuk Meiko berhasil menunjukkan kepada orang-orang bahwa keadaan tidak dapat membuat mereka menyerah.

Selain Umasuke, Muroi juga mendapatkan perhatian pada cerita minggu ini. Karena ketidakhadiran seorang staff di kantor siaran, Muroi diberikan kesempatan untuk membacakan cerita pendeknya. Cerita Muroi kemudian berhasil menghibur banyak orang meskipun sempat dianggap bukan cerita yang patriot.

Cerita minggu ini ditutup dengan kegiatan masak bersama yang dilakukan oleh para asosiasi wanita. Meiko yang juga terinspirasi dari cerita oden mirik Muroi membuat udon kari dalam mangkuk besar untuk semua orang.


Catatan : Pembatasan bahan makanan pada saat perang diakali dengan pembelian bahan makanan melalui pasar gelap, namun hal tersebut dianggap sebagai sebuah bentuk pelanggaran.

Kredit terjemahan judul mingguan : Sato-san