[REVIEW] Gochisousan (Week 5)



Week 5 : True Feeling 

Meiko yang bergegas menemui Yuutaro saat perlombaan di sungai kemudian melamar Yuutaro untuk menikahinya. Namun tidak seperti harapan, Yuutaro justru menolak lamaran Meiko. Ayah Meiko yang marah karena Meiko merusak acara omiai menjadi lebih marah ketika mengetahui Yuutaro malah menolak Meiko setelah semua yang Meiko lakukan. Tanpa mendengar alasan dari Yuutaro, ayah Meiko (Daigo) mengusir Yuutaro untuk meninggalkan rumahnya.



Alasan utama Yuutaro yang sebenarnya adalah keluarganya. Yuutaro adalah anak paling tua sekaligus kelak menjadi tulang punggung dalam keluarga, dan bermimpi untuk sukses demi keluarganya. Kebahagiaan bukanlah hal yang utama bagi Yuutaro termasuk ia tidak memikirkan soal pernikahan terlepas dari perasaannya kepada Meiko. Yuutaro tidak ingin membebankan Meiko dengan masalah keluarganya.

Kejadian di pinggir sungai saat Yuutaro menyelamatkan Meiko dari tenggelam membuat Yuutaro jatuh sakit. Yuutaro yang telah diusir kemudian pindah ke tempat tinggal seorang penulis bernama Muroi. Meiko kemudian mengetahui hal ini menjadi khawatir. Meski sempat tidak peduli, akhirnya Meiko menjenguk Yuutaro yang sedang demam.

Disinilah kemudian Yuutaro mengutarakan alasan yang sebenarnya kepada Meiko. Yuutaro kemudian mengatakan bahwa ia mencintai Meiko, dan mengutarakan soal beban keluarganya. Lebih dari itu, Yuutaro mengungkapkan bahwa ia ingin menikahi Meiko. Seperti gayung bersambut, Meiko menangis bahagia karena akhirnya perasaannya dapat terbalaskan.

Yuutaro kemudian pergi menemui Daigo untuk mengatakan niatnya untuk menikahi Meiko. Merasa seperti dipermainkan, Daigo menolak lamaran Yuutaro dengan alasan bahwa ia terlalu memikirkan kebahagiannya sendiri dan tidak memikirkan Meiko.

Meiko harus melewati satu ujian lagi untuk meraih keinginannya, sempat terpikirkan di kepala Meiko untuk kabur bersama Yuutaro, tapi Yuutaro dengan tegas menolaknya bahwa masih ada waktu sebelum ayahnya menyeujui lamarannya dan juga hingga sebentar sampai kelulusan di sekolah.


Daigo tidak menolak lamaran tanpa alasan yang kuat. Meiko adalah anak sulung dan perempuan satu-satunya. Daigo hanya ingin memastikan bahwa Meiko tidak berbuat kesalahan dan hanya ingin melihatnya bahagia di atas segalanya. Daigo kemudian menjadi keras kepala dengan menentang pernikahan atas dasar kebahagiaan Meiko sementara ibu Meiko beserta bagian keluarga yang lain sudah menyetujui pernikahan ini.

Ada hal lain kegalauan lainnya di hati Yuutaro. Ia berpikir harus tinggal di Tokyo agar bisa tinggal bersama Meiko. Yuutaro memikirkan tentang Meiko yang dibesarkan dengan kebahagiaan dan lingkungan yang mencukupinya. Di sisi yang lain, Yuutaro juga ingin kembali ke Osaka untuk mewujudkan mimpinya untuk bisa membangun kota yang aman untuk ditinggali. Yuutaro sudah siap untuk tinggal di Tokyo dan meninggalkan semuanya demi cintanya.



Namun kemudian Meiko lah yang akan berkorban. Meiko terus mendesak ayahnya agar merestui pernikahannya dan mengizinkannya untuk ikut Yuutaro ke Osaka. Daigo yang sangat menyayangi Meiko kemudian tidak bisa lagi menahan keinginan anaknya. Daigo berpendapat bahwa anaknya sudah dewasa dan mampu melakukan hal-hal yang ia inginkan ditambah dengan karakter Meiko yang kuat.

Daigo sadar akan kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi Meiko dalam kehidupan pernikahannya kelak, namun dengan tekad Meiko yang kuat, Daigo harus merelakan putrinya pergi demi pria yang dicintainya. Yuutaro juga kemudian membulatkan hatinya untuk membawa Meiko ke Osaka.

Sesaat setelah lulus dari sekolah masing-masing, Meiko dan Yuutaro kemudian meninggalkan Tokyo. Dengan restu dari sang ayah dan janji Yuutaro untuk membahagiakan Meiko, pasangan ini tentu akan menghadapi lembaran baru dalam hidup masing-masing, terutama untuk Meiko.


Catatan : Minggu ke-5 memperlihatkan drama yang lebih pekat dengan konflik orang tua dan anak. Subber tidak menerjemahkan judul dari minggu ini, kredit terjemahan diatas ditujukan kepada Sato-san.