Week 4: With All My Heart
Perasaan Meiko sudah semakin dalam kepada Yuutaro. Hal itu dibuktikan Meiko dengan selalu menyiapkan kotak makan siang Yuutaro berupa Omusubi (Onigiri) dengan isi yang berbeda setiap harinya. Bahkan untuk membuat makanan tersebut, Meiko harus bangun pagi dan sedikit bersusah payah dengan menahan panasnya nasi demi menghasilkan Omusubi yang enak.
Namun terdapat sedikit unsur orang ketiga dalam diri Akiko. Akiko adalah teman masa kecil Yuutaro. Dari luar, Akiko merupakan gadis yang cantik nan elegan. Ia bercita-cita menjadi seorang dokter. Akiko sepeti menjadi antitesis dari Meiko. Kehadiran Akiko yang cuman sebentar cukup untuk membuat Akiko rendah diri dan bingung.
Meiko juga sempat berpikir bahwa deskripsi Yuutaro tentang gadis yang ia sukai adalah penggambaran dari karakter Akiko. Meiko merasa seperti orang bodoh dengan berpikir bahwa deskripsi tersebut adalah tentang dirinya. Terlepas dari fakta yang ada, Meiko kehilangan motivasinya.
Sampai pada sebuah pembicaraan, Meiko mengetahui bahwa Akiko adalah korban seperti Yuutaro saat kejadian kebakaran di daerah mereka berasal. Orang tua Akiko meninggal karena tidak ditangani dengan baik oleh dokter. Dengan alasan tersebut, Akiko bermimpi menjadi dokter sementara Yuutaro bermimpi menjadi seorang arsitek hebat.
Namun perasaan Meiko tetap gundah gulana, apalagi saat sebuah omiai (sejenis perjodohan dalam budaya Jepang, namun masih sebatas pertemuan untuk mengenal pribadi masing-masing pasangan) ditetapkan untuk Meiko. Dengan kualifikasi yang dipunyai Meiko, orang tua Meiko terutama sang ayah mendesak Meiko untuk mengambil kesempatan ini. Belum lagi alasan bahwa omiai ini diserukan oleh kepala perusahaan yang berjasa dalam restauran Kameikan.
Bagaimana tidak hal ini menjadi membingungkan untuk Meiko? Di satu sisi, Yuutaro adalah orang yang membuatnya berusaha lebih dan berubah atau dengan kata lain perasaan suka sudah tertanam dalam hati Meiko. Di sisi yang lain, Meiko menganggap bahwa ini adalah salah satu kesempatan untuk menentukan jalan hidupnya dengan waktu kelulusan yang sudah dekat, apalagi sang ayah yang sangat menginginkan rencana omiai bisa berjalan sukses sampai ke jenjang perkawinan.
Sikap cuek Yuutaro juga menjadi alasan dari pasang surut drama di minggu keempat ini. Yuutaro sangat tidak peka soal urusan perasaan dan cinta. Beberapa usaha telah dicoba Meiko untuk secara tidak langsung memastikan persaan Yuutaro kepadanya, namun Yuutaro yang bingung akan perasaannya malah mensetujui omiai Meiko.
Menjelang hari omiai, sikap Yuutaro dan Meiko seperti membohongi perasaan satu sama lain. Tidak ada hal-hal yang mempengaruhi keduanya kecuali desakan yang diberikan oleh Sakurako dan Tamiko kepada Meiko. Ibu Meiko sendiri belum yakin apakah Meiko sudah siap untuk hal penting seperti pernikahan dan juga telah mengetahui persaan putrinya kepada pria yang benar-benar ia sukai.
Hari-H Omiai, Meiko menyadari sebuah hal yang sangat penting. Pernikahan layaknya sebuah nasi. Dimana perlu penanganan yang terbaik agar nasinya menjadi enak. Dengan berkata jujur bahwa ia hanya ingin mendengar kata Gochisousan dari Yuutaro. Meiko meminta maaf kepada keluarga pasangan dan langsung bergegas menuju Yuutaro.
Minggu ke-4 seperti ombak yang pasang surut. Tidak mengenal zaman, cinta membuat seseorang berbuat lebih.
Catatan : Omiai sudah ada sejak jaman taisho, sementara wanita setelah lulus sekolah jarang melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi dan justru bersiap untuk segera menikah.




